Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 September 2011

Komunikasi kebidanan


Macam-Macam Klien dalam Asuhan Kebidanan


Sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup pelayanan kebidanan, maka bidang konseling kebidanan meliputi:
  1. komunikasi pada bayi & balita.
  2. komunikasi remaja.
  3. komunikasi pada calon orang tua.
  4. komunikasi pada ibu hamil.
  5. komunikasi pada ibu bersalin.
  6. komunikasi pada ibu nifas.
  7. komunikasi pada ibu menyusui.
  8. komunikasi pada akseptor KB.
  9. komunikasi pada masa klimakterium & menopause.
  10. komunikasi pada wanita dengan gangguan reproduksi.
1.     Komunikasi pada bayi & balita
Komunikasi pada bayi dimulai sejak kelahiran sejak bayi mulai menangis sampai lancar berbicara. Fase pertumbuhan dan perkembangan komunikasi bayi meliputi : (1) fase prelinguistic; (2) kata pertama; (3) kalimat pertama; (4) kemampuan bicara egosentris dan memasyarakat; (5) perkembangan semantic Fase Prelinguistic Suara pertama kali yang dikeluarkan bayi baru lahir adalah tangisan. Hal tersebut sebagai reaksi perubahan tekanan udara dan suhu luar uterin. Bayi menangis dikarenakan lapar, tidak nyaman oleh karena basah, kesakitan atau minta perhatian. Bunyi refleksi (reflek vocal) juga termasuk dalam fase prelinguistic, yang meliputi : (a) Babling (meraban), fase ini dimulai ketika bayi tahu suaranya, senang mendengar suaranya dan kemudian diulang seperti berbicara sendiri. (b) Echolalia, mengulang gema suara dari suara yang diucapkan orang lain. Kata Pertama Bayi merespon terhadap kata-kata familier. Fase ini dimulai usia 4-5 bulan. Kalimat Pertama Periode ini dikenal sebagai permulaan berbicara komplit. Usia 2 tahun sudah mulai menyusun kata-kata. Kemampuan Bicara Egosentris dan Memasyarakat
Kemampuan berbicara egosentris meliputi : (a) Repetitif (pengulangan); (b) Monolog (berbicara satu arah); (c) Monolog kolektif. Menurut Lev Vygotsky, bicara egosentris merupakan petunjuk dan bantuan bagi anak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri.
Perkembangan Semantik
Semantik adalah pengetahuan yang mempelajari arti kata pada bahasa yang diajarkan. Fase ini mulai memahami arti konkrit dan jenis kata konkrit dan mulai mengetahui arti kata abstrak.
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa adala : (1) intelegensi (kecerdasan); (2) jenis kelamin; (3) bilingual (dua bahasa); (4) status tunggal atau kembar; (5) rangsangan/ dorongan orang tua.
Proses komunikasi mengikuti perkembangan psikologis anak. Dalam hal ini, kontak kasih sayang orang tua dan anak, dapat memperkuat kepribadian anak. Bidan dapat memberikan dorongan, bantuan kepada ibu serta pihak lain dalam memberi dukungan rangsangan aktif dalam bahasa dan emosi.
Adapun cara memberikan dukungan rangsangan aktif adalah : (1) memperbaiki model orang tuanya; (2) mendorong kemampuan komunikasi verbal dan non verbal; (3) memberikan anak pengalaman untuk berbicara; (4) mendorong anak untuk mendengar; (5) menggunakan kata yang pasti dan benar.
Prinsip komunikasi efektif pada anak meliputi : (1) kesabaran mendengar; (2) role playing, bermain peran sebagai guru, ayah-ibu dan sebagainnya yang dapat mengekspresikan kemampuan anak dalam hal pikiran, emosi, perasaan dan keinginan mereka secara bebas.
2.     Komunikasi Remaja
Tujuan komunikasi pada remaja adalah memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi yang terjadi.
Bidan perlu menjalin hubungan komunikasi terbuka, mengungkapkan hal-hal yang belum diketahui oleh remaja. Permasalahan yang dapat diselesaikan dalam bentuk komunikasi terapeutik pada remaja misalnya; perubahan fisik/ biologis sesuai usia, perubahan emosi dan perilaku remaja, kehamilan pada remaja, narkotika, kenakalan remaja dan hambatan dalam belajar.
Adapun komunikasi yang efektif pada remaja, seorang bidan harus memperhatikan :  (1) kenyamanan remaja dalam menerima informasi; (2) cara pandang remaja dalam mensikapi pesan yang disampaikan; (3) memfokuskan persoalan yang akan disampaikan; (4) menggunakan bahasa yang mudah dimengerti; (5) menjalin sikap terbuka dan menumbuhkan kepercayaan; (6) menjalin keakraban dengan remaja.
3.     Komunikasi Pada Calon Ibu
Komunikasi terapeutik pada calon ibu perlu memperhatikan dan mempelajari kondisi psikologis wanita. Bidan dapat melakukan komunikasi teraupetik pada calon ibu dengan menitikberatkan pada :  (a) memberikan penjelasan tentang fisiologis menstruasi; (b) memberikan bimbingan tentang perawatan diri sehubungan dengan peristiwa menstruasi; (c) memberi bimbingan pra perkawinan; (d) pendidikan kesehatan calon ibu; (e) memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi serta peran yang terjadi.
4.     Komunikasi Pada Ibu Hamil
Kehamilan memberikan perubahan baik secara fisiologis maupun psikologis bagi ibu hamil. Perubahan-perubahan yang bersifat fisiologis misalnya; pusing, mual, tidak nafsu makan, BB bertambah dan sebagainya. Sedangkan perubahan psikologis yang menyertai ibu hamil diantaranya; ibu menjadi mudah tersinggung, bangga dan bergairah dengan kehamilannya dan sebagainya.
Adapun pelaksanaan komunikasi bagi ibu hamil, bidan diharapkan : (a) mampu melaksanakan asuhan dan tindakan pemeriksaan, pendidikan kesehatan dan segala bentuk pelayanan kebidanan ibu hamil; (b) dengan adanya komunikasi terapeutik diharapkan dapat meredam permasalahan psikososial yang berdampak negatif bagi kehamilan; (c) membantu ibu sejak pra konsepsi untuk mengorganisasikan perasaannya, pikirannya untuk menerima dan memelihara kehamilannya.
5.     Komunikasi Pada Ibu Bersalin
Proses persalinan merupakan hal yang fisiologis yang dialami oleh setiap wanita dan setiap individu berbeda-beda. Perubahan fisiologis pada ibu bersalin diantaranya: terjadi kontraksi uterus, otot-otot pangggul dan jalan lahir mengalami pemekaran, dsb. Sedangkan perubahan psikologis yang sering terjadi pada ibu bersalin adalah rasa cemas pada kondisi bayinya saat lahir, kesakitan saat kontraksi dan nyeri, ketakutan saat melihat darah, dsb.
Pelaksaanaan komunikasi pada saat ini, tidak hanya ditujukan pada ibu yang akan melahirkan, tetapi juga pada pemdamping ibu. Dalam hal ini, dapat suami ataupun keluarga yang laiinya. Komunikasi ini ditujukan untuk memberikan dukungan/ motivasi moral baik untuk ibu maupun keluarga. Komunikasi ibu bersalin difokuskan pada teknik saat bersalin dengan menerapkan asuhan sayang ibu, penyampaian pesan diberikan secara jelas dan memberikan rasa nyaman.
6.     Komunikasi Pada Ibu Nifas
Ibu setelah melahirkan akan mengalami fase ini yaitu fase ibu nifas. Ibu nifas juga mengalami perubahan-perubahan yang bersifat fisiologis maupun psikologis. Oleh karena itu, diperlukan juga komunikasi pada saat nifas. Perubahan fisiologis pada ibu nifas meliputi: proses pengembalian fungsi rahim, keluarnya lochea, dsb. Sedangkan perubahan psikologis meliputi: perasaan bangga setelah melewati proses persalinan, bahagia bayi telah lahir sesuai dengan harapan, kondisi-kondisi yang membuat ibu sedih saat nifas (keadaan bayi tidak sesuai harapan, perceraian, dsb).
Pelaksanaan komunikasi yang dilakukan bidan pada ibu nifas harus memperhatikan kestabilan emosi ibu, arah pembicaraan terfokus pada penerimaan kelahiran bayi, penyampaian informasi jelas dan mudah dimengerti oleh ibu dan keluarga, dsb.
7.     Komunikasi Pada Ibu Menyusui
Perubahan fisiologis yang dialami pada ibu menyusui diantaranya: pembesaran kelenjar susu oleh karena hormon, pengeluaran ASI. Perubahan psikologis ibu menyusui meliputi: kecemasan ibu dalam ketidaksanggupan dalam perawatan bayi, pemberian ASI tidak maksimal, ketakutan dalam hal body image, cemas akan kondosi bayinya. Komunikasi bidan pada saat menyusui sangat diperlukan ibu untuk pemberian motivasi dengan peranan ibu dalam kesuksesan pemberian dan perawatan bayinya.
8.     Komunikasi Pada Klien KB
Tidak semua akseptor KB mengalami kenyamanan dalam menggunakan alat kontrasepsi. Ada juga yang mengalami perubahan baik secara fisiologis maupun psikologis setelah penggunaan alat kontrasepsi. Perubahan fisiologis yang sering terjadi adalah akibat dari efek samping penggunaan alat kontrasepsi tersebut. Misalnya pusing, BB bertambah, timbul flek-flek di wajah, gangguan menstruasi, keputihan, gangguan libido, dll. Adapun perubahan psikologis yang dialami adalah kecemasan atau ketakutan akan keluhan-keluhan yang terjadi, kegagalan dalam pemakaian alat kontrasepsi.
Pelaksanaan komunikasi bagi akseptor KB yaitu terfokus pada KIE efek samping kontrasepsi dan cara mengatasinya, cara kerja dan penggunaan alat kontrasepsi.
9.     Komunikasi Pada Wanita Menopause dan Klimakterium
Pada fase ini wanita juga mengalami perubahan fisiologis dan perubahan psikologis. Perubahan fisiologis yang dapat terjadi misalnya hot flash, keringat dingin, haid tidak teratur, dispareuni, jantung berdebar-debar, dll. Adapun perubahan yang bersifat psikologis adalah kecemasan terhadap keluhan-keluhan yang dialami.
Pelaksanaan komunikasi pada wanita menopause dan klimakterium ini adalah (a) pemberian penjelasan tentang pengertian, tanda menopause; (b) deteksi dini terhadap gangguan yang terjadi pada masa ini; (c) pemberian informasi tentang pelayanan kesehatan yang dapat dikunjungi; (d) membantu klien dalam pengambilan keputusan; (e) pemakaian alat bantu dalam emberian KIE; (f) melakukan komunikasi dengan pendekatan biologis, psikologis dan sosial budaya.
Prinsip komunikasi pada masa menopause adalah (1) fungsi kognitif terdiri dari: kemampuan belajar (learning), kemampuan pemahaman (comprehension), kinerja (performance), pemecahan masalah (problem solving), daya ingat (memory), motivasi, pengambilan keputusan, kebijaksanaan. (2) fungsi afektif, fenomena kejiwaan yang dihayati secara subyektif sebagai sesuatu yang menimbulkan kesenangan atau kesedihan. (3) fungsi konatif (psikomotor), fungsi psikis yang melaksanakan tindakan dari apa yang diolah melalui proses berpikir dan perasaan ataupun keduanya.
10.Komunikasi Pada Wanita dengan Gangguan Sistem Reproduksi
Wanita dengan gangguan sistem reproduksi akan mengalami gangguan atau perubahan yang bersifat fisiologis maupun psikologis. Perubahan fisiologis yang terjadi seperti keputihan, gangguan haid, penyakit menular seksual, dll. Sedangkan perubahan yang bersifat psikologis diantaranya ibu cemas, takut akan masalah-masalah yang terjadi dan ketidaksiapan dalam menerima kenyataan.
Pelaksanaan komunikasi pada wanita dengan gangguan sistem reproduksi adalah penjelasan kemungkinan penyebab gangguan yang dialaminya, deteksi dini terhadap kelainan sehubungan dengan gangguan reproduksi, pemberian informasi tentang layanan kesehatan, membantu dalam pengambilan keputusan dan pemberian support mental.

Selasa, 20 September 2011

Satuan Acara Penyuluhan Breast Care


SATUAN ACARA PENYULUHAN
PERAWATAN PAYUDARA
( BREAST CARE )

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK IX
SITI HARDIYANTI ASTUTI
NIM. 10 50 80 193

YAYASAN PENDIDIKAN CENDRAWASIH
AKADEMI KEBIDANAN PALU
ANGKT IV
T.A 2011


SATUAN ACARA PENYULUHAN

POKOK BAHASAN : PERAWATAN PAYUDARA
SASARAN                 : IBU NIFAS
JUMLAH PESERTA :
WAKTU                     : 30 MENIT

I.       KARAKTERISTIK PESERTA
Peserta penyuluhan / pendidikan kesehatan adalah ibu-ibu nifas
II.    TUJUAN PENYULUHAN
Setelah penyuluhan ibu-ibu nifas memahami dan dapat melaksanakan perawatan payudara secara mandiri.

III. MATERI PENYULUHAN
Ø  Pengertian perawatan payudara
Ø  Manfaat perawatan payudara
Ø  Langkah-langkah perawatan payudara

IV. METODE PENYULUHAN
Ø  Praktek
Ø  Leaflet
V.    KEGIATAN PENYULUHAN
No.
Kegiatan penyuluhan
Kegiatan peserta
waktu
Metode/media
1.
Pembukaan :
ü  Memberi salam dan perkenalan

ü  Menyampaikan tujuan

ü  Menjawab salam dan memperhatikan


5 menit

Ceramah
2.
Kegiatan inti :
ü  Memberikan pengertian tentang perawatan payudara

ü  Mempraktekkan cara perawatan payudara

ü  Peserta mengerti tentang perawatan payudara


ü  Peserta memperhatikan cara perawatan payudara

45 menit

Ceramah





Praktek cara perawatan payudara
3.
Penutup :
ü  Evaluasi hasil ceramah yang diberikan
ü  Mengucapkan terima kasih
ü  Memberikan salam

ü  Peserta menjawab pertanyaan yang diajukan
ü  Peserta membalas percakapan

5 menit

ceramah

LAPORAN MATERI PENYULUHAN
A.    PENGERTIAN PERAWATAN PAYUDARA
Perawatan payudara adalah perawatan paudara dengan menggunakan teknik khusus untuk persiapan menyusui. Perawatan payudara ini dilakukan pada ibu pasca melahirkan/ nifas dengan tujuan untuk melancarkan peredaran darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu sehingga memperlancar pengeluaran ASI.
Dalam melakukan perawatan payudara perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut;
1.      Lakukan perawatan secara teratur
2.      Pelihara kebersihan sehari-hari
3.      Pemasukan gizi ibu harus lebih baik dan lebih cukup untuk mencukupi produksi ASI.
4.      Ibu harus percaya diri akan kemampuan menyusui bayinya
5.      Ibu harus merasa nyaman dan santai.
Selain itu pelaksanaan perawatan payudara dimulai sedini mungkin, yaitu   1-2 hari setelah melahirkan.
B.     MANFAAT PERAWATAN PAYUDARA
1.      Menjaga kebersihan payudara terutama kebersihan putting susu
2.      Melenturkan dan menguatkan putting susu sehingga memudahkan bayi unutk menyusui.
3.      Merangsang kelenjar-kelenjar air susu sehingga produksi ASI banyak dan lancar
4.      Dapat mendeteksi kelainan-kelainan payudara secara dini dan melakukan upaya untuk mengatasinya.
C.     LANGKAH-LANGKAH PERAWATAN PAYUDARA
Ø  Persiapan alat dan bahan :
-          Minyak (baby oil)
-          2 buah kapas
-          2 buah handuk besar
-          2 buah waslap
-          2 baskom (1 air hangat, 1 air dingin)
-          BH dan pakaian ibu
1.      Cuci tangan di kran atau air mengalir sebelum melakukan tindakan dan keringkan
2.      Letakkan handuk besar diatas pangkuan dan punggung ibu
3.      Kedua telapak tangan di oles dengan minyak (baby oil) dan ratakan ke seluruh permukaan kedua telapak tangan.
4.      Lakukan kompres pada kedua putting susu dengan kapas minyak selama 5 menit agar kotoran menjadi lunak sehingga mudah untuk dibersihkan
5.      Kedua telapak tangan diletakkan diantara kedua payudara
6.      Lakukan pengurutan dimulai kearah atas, lalu telapak tangan kiri kearah sisi kiri dan telapak tangn kanan kearah sisi kanan.
7.      Lakukan terus pengurutan kesamping bawah, selanjutnya pengurutan melintang, telapak tangan mengurut kedepan lalu kedua tangan dilepas dari payudara, lakukan sebanyak 20 kali
8.      Sokong payudara kiri dengan tangan kiri, kemudian 3 jari tangan kanan membuat gerakan memutar sambil menekan mulai dari pangkal payudara dan berakhir pada putting susu. Lakukan tahap yang sama pada payudara kanan dan dilakukan sebanyak 20 kali gerakan pada setiap payudara.
9.      Sokong payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah tepi kearah putting susu. Gerakan ini sebanyak 20 kali untuk setiap payudara.
10.  Jika putting susu normal, lakukan perawatan : oleskan minyak pada kedua putting susu, lakukan gerakan memutar kearah dalam sebanyak 20 kali putaran.
11.  Jika putting susu datar atau masuk kedalam lakukan : letakkan kedua ibu jari disebelah kiri dan kanan putting susu secara perlahan
12.  Letakkan kedua ibu jari diatas dan dibawah putting susu, lalu tekan serta hentakan ke arah luar menjauhi putting susu secara perlahan
13.  Lakukan pengompresan, yang sebelumnya sudah disiapkan baskom kecil yang masing-masing di isi dengan air hangat dan air dingin serta 2 buah waslap dari bahan handuk. Selanjutnya kompres kedua payudara dengan waslap hangat selama 2 menit, lalu ganti dengan waslap dingin selama 1 menit, kompres bergantian selama 3 kali berturut-turut dan akhiri dengan kompres air hangat.
14.  Kenakan BH dan baju yang nyaman
15.  Cuci tangan di bawah air mengalir setelah selesai melakukan tindakan.